Akhir-akhir ini sepertinya virus narsisme sedang mewabah kemana-mana. Setiap kali saya datang di acara kondangan, teman-teman saya selalu meminta untuk difoto (karena kadang-kadang saya suka membawa kamera DLSR saya yang dulu saya beli dengan “ngos-ngos’an”). Meski berpuluh-puluh kali dijepret, herannya mereka masih saja “haus dan lapar” untuk difoto, yah… maklumlah… menjadi narsis memang hak setiap orang.
Di tengah keasyikan hiruk pikuk foto-memfoto tersebut, tiba-tiba seorang teman saya berteriak, “tunggu-tunggu jangan difoto dulu… saya ganti posisi, soalnya kalo difoto dari kanan gua selalu keliatan jelek.”
Sebuah teriakan yang menyentak pikiran saya.
Kadang memang ada sisi-sisi tertentu yang membuat seseorang kelihatan jelek kalau sedang difoto. Dalam dunia fotografipun, “angle” adalah sebuah elemen yang penting. Angle yang tepat akan membuat foto menjadi lebih “berbicara”, lebih unik, lebih indah, dan lebih dramatis.
Sadar atau tidak itulah prinsip yang belaku juga dalam hidup kita. Segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita bisa menjadi baik atau menjadi buruk, tergantung dari sudut pandang (perspektif) mana kita melihatnya. Masalah tidak selalu buruk, kadang-kadang manusia membutuhkan masalah supaya seluruh potensi hidupnya keluar.
“Manusia itu seperti teh celup, keistimewaannya baru keluar setelah dimasukkan dalam air panas”
Kemampuan kita dalam menempatkan diri sangatlah penting. Kalau kita berada di posisi yang tepat, maka kita akan melihat perspektif yang tepat. Kalau kita melihat perspektif yang tepat, maka kita akan mendapat informasi yang tepat. Informasi yang tepat bila kita proses dengan tepat akan menghasilkan perkataan dan tindakan yang tepat. Dan tentunya tindakan yang tepat menghasilkan masa depan yang tepat pula.
Masih ingat dengan cerita klasik mengenai gajah? Ada 2 orang melihat gajah, yang satu melihat dari depan dan orang kedua melihat dari belakang. Keduanya bertengkar karena orang pertama beranggapan bahwa gajah adalah binatang dengan telinga lebar dan berhidung panjang, sedangkan orang kedua beranggapan gajah adalah mahkluk tanpa wajah kecuali ekot yang menjuntai di wajahnya. Semuanya cuma masalah perspektif bukan?
Di tahun 1988, sebuah surat kabar di Amerika memuat berita yang menggemparkan. Pada masa itu pemerintah mengumumkan ada satu jenis Serigala yang hampir punah, sehingga kepada siapapun yang bisa menangkap Serigala jenis itu dalam keadaan hidup dan menyerahkan pada pemerintah, mereka akan diberi imbalan $5000 setiap 1 ekornya. 2 orang pemuda dengan semangat yang membara memulai perjalanan mereka mencari serigala tersebut. Berhari-hari berkeliling hutan mereka tidak menemukan apapun. Di malam ketiga mereka memutuskan untuk bermalam di sebuah hutan. Ketika mereka tidur lelap, salah satu pemuda terbangun dan merasa aneh, ada perasaan ganjil menyelimutinya. Kemudian dia mengamati sekelilingnya, dan ternyata … beberapa pasang mata mengelilingi mereka. Mata itu adalah milik beberapa serigala. Kedua pemuda itu dikepung oleh beberapa serigala berwajah garang yang kelaparan. Sambil berbisik pemuda itu membangunkan temannya, ia menyodok temannya dengan sebatang tongkat sambil berbisik, “Hey… bangun teman … kita akan segera kaya!!!”
Jawaban yang mengagetkan bukan? Kalau kita dalam kondisi itu kita akan berpikir “Matilah kita sekarang…” Tapi, pemuda itu melihat dari perspektif yang berbeda. Dan memang tidak diceritakan pakah kedua pemuda itu berhasil menangkap serigala atau tidak yang jelas mereka berhasil selamat dan berita mereka menghiasi koran lokal saat itu. Saya percaya salah satu alasan mereka bisa selamat adalah karena “perspektif” mereka yang tepat!
Bila engkau melihat dengan perspektif yang benar, maka benarlah hidupmu. Apapun yang terjadi dalam hidupmu, berusahalah melihat dari perspektif positif, maka hasilnya hidupmu juga akan menjadi positif.
1 cerita lagi, ada 2 salesman sepatu dari perusahaan berbeda sama-sama diutus ke sebuah pulau untuk menjual produk sepatu mereka. Sesampainya di pulau itu, mereka mendapati bahwa penduduk pulau itu tidak pernah memakai alas kaki. Salesman pertama segera menelpon bos’nya dengan panik, “Bos..bos… celaka, disini semua orang tidak pernah memakai alas kaki sama sekali! Bagaimana mungkin mereka mau membeli sepatu kita?” Sedangkan salesman kedua juga menelpon bosnya dengan wajah bersemangat, “Berita bagus bos! Semua orang disini belum pernah pakai sepatu! Kita bisa memperkenalkan produk kita dan berpotensi memperoleh untung yang besar!”
Anda bisa lihat perbedaannya? Target yang sama, produk yang sama, lokasi yang sama dan situasi yang sama, tetapi bila dilihat dari perspektif yang berbeda akan berujung pada hasil yang berbeda. Ternyata memang benar pernyataan “posisi menentukan prestasi”.
Sudah saatnya kita melihat segala sesuatu dengan perspektif yang lebih positif. Saya sudah menjumpai puluhan (bahkan mungkin ratusan) orang yang hidup dengan perspektif negatif, dan mereka tidak pernah berkembang hidupnya. Selalu menjadi pengikut, tertinggal, tidak dianggap, diremehkan, tidak menghasilkan apa-apa, biasa-biasa aja, dan akhir hidup mereka hanyalah sebagai orang yang “numpang lewat” di dunia tanpa melakukan sesuatu yang berkesan bagi orang lain.
Kalau Anda mempelajari orang-orang hebat, Anda pasti menemukan bahwa mereka adalah orang yang menempatkan diri di perspektif yang benar. Memang tidak banyak orang yang bisa begitu, itu sebabnya Paretto menemukan teori bahwa dunia ini terdiri dari 20% pemenang dan 80% pecundang.
Di akhir artikel ini, saya ingin menulis kutipan dari pernyataan Winston Churcill, “Orang pesimis adalah orang yang melihat masalah dalam kesempatan, tetapi orang optimis adalah orang yang melihat kesempatan dalam masalah.”
Semuanya cuman masalah perspektif.
by visual-inspiration

Tidak ada komentar:
Posting Komentar