Senin, 30 Maret 2009

Dalam Tangan Siapa?

Dalam Tangan Siapa?



Bola basket dalam tanganku berharga $19.

Bola basket dalam tangan Michael Jordan berharga $33 juta.

Tergantung ada dalam tangan siapa.


Baseball dalam tanganku berharga $6.
Baseball dalam tangan Mark McGuire berharga $19 juta.

Tergantung ada dalam tangan siapa.


Raket tenis tak ada gunanya dalam tanganku.

Raket tenis dalam tangan Venus Williams menghasilkan kemenangan dalam kejuaraan dunia.

Tergantung ada dalam tangan siapa.


Tongkat dalam tanganku menghalau binatang buas.

Tongkat dalam tangan Musa membelah lautan luas.

Tergantung ada dalam tangan siapa.


Ketapel dalam tanganku merupakan mainan anak-anak.

Ketapel dalam tangan Daud merupakan senjata dahsyat.

Tergantung ada dalam tangan siapa.


Lima roti dan dua ikan dalam tanganku menjadi beberapa potong roti isi.

Lima roti dan dua ikan dalam tangan Yesus memberi makan ribuan orang.

Tergantung ada dalam tangan siapa.


Paku-paku dalam tanganku menghasilkan sangkar burung.

Paku-paku dalam tangan Yesus Kristus menghasilkan keselamatan bagi segenap umat manusia.

Tergantung ada dalam tangan siapa.


Kau lihat sekarang, segala sesuatu tergantung ada dalam tangan siapa.

Jadi serahkan segala masalahmu, kekhawatiranmu, ketakutanmu,

harapan-harapanmu, impian-impianmu,

keluargamu, kawan serta sahabat-sahabatmu

dalam tangan Tuhan Yesus Kristus sebab...

segala sesuatu tergantung ada dalam tangan siapa.



Pesan ini sekarang ada dalam tanganmu.

Apa yang hendak kau lakukan dengannya?

Tergantung ada dalam tangan siapa.

Senin, 16 Maret 2009

Tuhan Beri Saya Lambung Baru

Siapapun tahu kalau kanker adalah penyakit yang mengerikan dan mematikan. Namun saya tidak pernah mengira kalau sakit perut yang semula saya kira hanya sakit maag ternyata penyakit kanker. Waktu diperiksa, dokter menemukan di dinding lambung saya terdapat benjolan-benjolan daging tumbuh. Dokter bilang, kemungkinan itu tumor. Untuk memastikan nya , saya pergi ke Penang, Malaysia , tetapi dokter di sana tidak bisa memastikan. Saat sedang melakukan pemeriksaaan di Penang, sebuah pesan SMS dari Indonesia, yaitu dari dokter yang menangani saya di Jakarta, masuk ke HP saya dan bunyinya sangat mengagetkan: Anda positif terkena kanker kelenjar getah bening.

Dunia rasanya mau kiamat waktu saya mendapat berita yang mengejutkan ini karena yang saya tahu penyakit kanker adalah penyakit yang menakutkan dan sampai sekarang tidak ada obatnya. Saya tetap berusaha dan melakukan pemeriksaan di Singapura , namun usaha ini pun sia-sia. Dokter mengatakan bahwa kanker telah bersarang di dinding lambung saya dan tidak ada pilihan lain kecuali saya harus menjalani kemoterapi.

Hari-hari dengan kemoterapi membuat saya tersiksa. Rasa sakit yang luar biasa dan rambut rontok akibat dampak dari kemoterapi sangat saya rasakan. Setiap waktu saya berteriak kepada Tuhan di dalam doa dan tiap kali saya berdoa, saya minta lambung baru. Saya bilang kepada Tuhan kalau saya tidak mau hanya sekedar sembuh tetapi saya minta lambung baru. "Engkau punya segudang lambung baru, Tuhan. Kalau engkau menciptakan dari awal lambung baru dan sekarang lambung itu rusak, sekarang Engkau yang menggantikan karena Engkau punya segudang lambung baru. Saya percaya, saya imani, Engkau Tuhan sanggup melakukan itu."

Saya bilang sama mami, suami dan anak-anak saya bahwa saya sudah putuskan saya tidak mau dikemo lagi karena saya tambah menderita dan tambah sakit! Jalan saja saya tidak bisa. Kalau saya melihat keluarga saya makan, saya kepingin makan dan nafsu makan itu timbul. Namun saya tidak bisa makan. Yang keluar cuma air liur dan waktu air liur itu keluar sakitnya luar biasa....! Saya tidak bisa mengekspresikan dengan kata-kata. Untunglah, di saat-saat seperti itu, keluarga selalu ada dan memberi kekuatan, semangat serta doa untuk saya dalam menghadapi semuanya.

Sebuah undangan kebaktian kebangunan rohani (KKR) di Ancol menjadi langkah awal mukjizat Tuhan untuk saya. Sampai di Ancol dan turun dari mobil, saya cuma bisa makan sesuap nasi dan seteguk air karena sakitnya luar biasa...! Saya sempat mengeluh sama Tuhan dan saya pikir Tuhan kok seperti ini. Saya turun dari mobil didorong dengan kursi roda oleh suami, anak-anak dan mami saya.

Setengah jam saya berada di lapangan Ancol, ada pendoa keliling datang dan mendoakan saya. Saya merasa bahwa iman dan pengharapan saya selama ini tidak pernah sia-sia. Kesembuhan dan mukjizat Tuhan sedang terjadi atas diri saya. Selesai berdoa, si pendoa menyalami saya dan tertawa cerah seperti merasakan sukacita yang luar biasa. Pendoa itu seolah-olah tahu Tuhan sudah sembuhkan saya.

Selesai KKR, suami saya haus dan dia minum teh botol. Sebelum minum, dia tawari saya. Di situ saya tahu kalau saya sudah sembuh dan saya sudah dapat lambung baru karena saya bisa minum dan tidak sakit , saya benar-benar bisa merasakan teh botol yang manis! Luar biasa! Saya berteriak-teriak kepada Tuhan: "Tuhan terima kasih buat lambung yang baru. Saya sudah sembuh. Thank You, Lord! Engkau dahsyat dan luar biasa!" Keesokan harinya saya menemui dokter yang menangani saya dan dokter kembali melakukan proses endoskopi. Usai endoskopi, dokter cuma bisa geleng-geleng kepala. Dokternya juga kaget karena kok di lambung saya sudah tidak ada apa-apa lagi. Kata dokter: "Very clear. Licin!"

Saya sungguh bersuka karena pengharapan saya cuma satu, yaitu kepada Tuhan Yesus saja. Memang dokter mengatakan saya mengidap kanker kelenjar getah bening. Namun saya berharap kepada Tuhan yang bisa menyembuhkan saya. Dan sekarang Tuhan telah menyembuhkan saya dan memberi saya sebuah lambung baru! Bagi saya, Tuhan itu dokter segala dokter. Pengetahuan dokter terbatas tetapi Tuhan pengetahuannya tidak terbatas! (Kisah ini sudah ditayangkan 14 Juli 2008 dalam acara Solusi di SCTV)

Sumber kesaksian:

drg.Megawati

Sumber : Jawaban.com/VM

Jumat, 06 Maret 2009

Penyakit Kanker Sudah Tidak Berbahaya Lagi

Penyakit Kanker Sudah Tidak Berbahaya Lagi


Kanker tidak lagi mematikan. Para penderita kanker di Indonesia dapat memiliki harapan hidup yang lebih lama dengan ditemukannya tanaman "KELADI TIKUS" (Typhonium Flagelliforme/ Rodent Tuber) sebagai tanaman obat yang dapat menghentikan dan mengobati berbagai penyakit kanker dan berbagai penyakit berat lain.

Tanaman sejenis talas dengan tinggi maksimal 25 sampai 30 cm ini hanya tumbuh di semak yang tidak terkena sinar matahari langsung. "Tanaman ini sangat banyak ditemukan di Pulau Jawa," kata Drs.Patoppoi Pasau, orang pertama yang menemukan tanaman itu di Indonesia .

Tanaman obat ini telah diteliti sejak tahun 1995 oleh Prof Dr Chris K.H.Teo,Dip Agric (M), BSc Agric (Hons)(M), MS, PhD dari Universiti Sains Malaysia dan juga pendiri Cancer Care Penang, Malaysia. Lembaga perawatan kanker yang didirikan tahun 1995 itu telah membantu ribuan pasien dari Malaysia , Amerika, Inggris , Australia , Selandia Baru, Singapura, dan berbagai negara di dunia.

Di Indonesia, tanaman ini pertama ditemukan oleh Patoppoi di Pekalongan, Jawa Tengah. Ketika itu, istri Patoppoi mengidap kanker payudara stadium III dan harus dioperasi 14 Januari 1998. Setelah kanker ganas tersebut diangkat melalui operasi, istri Patoppoi harus menjalani kemoterapi (suntikan kimia untuk membunuh sel, Red) untuk menghentikan penyebaran sel-sel kanker tersebut.

"Sebelum menjalani kemoterapi,dokter mengatakan agar kami menyiapkan wig (rambut palsu) karena kemoterapi akan mengakibatkan kerontokan rambut, selain kerusakan kulit dan hilangnya nafsu makan," jelas Patoppoi. Selama mendampingi istrinya menjalani kemoterapi, Patoppoi terus berusaha mencari pengobatan alternatif sampai akhirnya dia mendapatkan informasi mengenai penggunaan teh Lin Qi di Malaysia untuk mengobati kanker. "Saat itu juga saya langsung terbang ke Malaysiauntuk membeli teh tersebut," ujar Patoppoi yang juga ahli biologi. Ketika sedang berada di sebuah toko obat di Malaysia , secara tidak sengaja dia melihat dan membaca buku mengenai pengobatan kanker yang berjudul Cancer, Yet They Live karangan Dr Chris K.H. Teo terbitan 1996.

"Setelah saya baca sekilas, langsung saja saya beli buku tersebut. Begitu menemukan buku itu, saya malah tidak jadi membeli teh Lin Qi, tapi langsung pulang ke Indonesia ," kenang Patoppoi sambil tersenyum. Di buku itulah Patoppoi membaca khasiat typhonium flagelliforme itu. Berdasarkan pengetahuannya di bidang biologi, pensiunan pejabat Departemen Pertanian ini langsung menyelidiki dan mencari tanaman tersebut. Setelah menghubungi beberapa koleganya di berbagai tempat, familinya di Pekalongan Jawa Tengah, balas menghubunginya. Ternyata, mereka menemukan tanaman itu di sana . Setelah mendapatkan tanaman tersebut dan mempelajarinya lagi, Patoppoi menghubungi Dr. Teo di Malaysia untuk menanyakan kebenaran tanaman yang ditemukannya itu.

Selang beberapa hari, Dr Teo menghubungi Patoppoi dan menjelaskan bahwa tanaman tersebut memang benar Rodent Tuber. "Dr Teo mengatakan agar tidak ragu lagi untuk menggunakannya sebagai obat," lanjut Patoppoi. Akhirnya, dengan tekad bulat dan do'a untuk kesembuhan, Patoppoi mulai memproses tanaman tersebut sesuai dengan langkah-langkah pada buku tersebut untuk diminum sebagai obat. Kemudian Patoppoi menghubungi putranya, Boni Patoppoi di Buduran, Sidoarjo untuk ikut mencarikan tanaman tersebut. "Setelah melihat ciri-ciri tanaman tersebut, saya mulai mencari di pinggir sungai depan rumah dan langsung saya dapatkan tanaman tersebut tumbuh liar dipinggir sungai," kata Boni yang mendampingi ayahnya saat itu.

Selama mengkonsumsi sari tanaman tersebut, isteri Patoppoi mengalami penurunan efek samping kemoterapi yang dijalaninya. Rambutnya berhenti rontok, kulitnya tidak rusak dan mual-mual hilang. "Bahkan nafsu makan ibu saya pun kembali normal," lanjut Boni.
Setelah tiga bulan meminum obat tersebut, isteri Patoppoi menjalani pemeriksaan kankernya. "Hasil pemeriksaan negatif, dan itu sungguh mengejutkan kami dan dokter-dokter di Jakarta ," kata Patoppoi. Para dokter itu kemudian menanyakan kepada Patoppoi, apa yang diberikan pada isterinya.. "Malah mereka ragu, apakah mereka telah salah memberikan dosis kemoterapi kepada kami," lanjut Patoppoi.

Setelah diterangkan mengenai kisah tanaman Rodent Tuber, para dokter pun mendukung Pengobatan tersebut dan menyarankan agar mengembangkannya. Apalagi melihat keadaan isterinya yang tidak mengalami efek samping kemoterapi yang sangat keras tersebut. Dan pemeriksaan yang seharusnya tiga bulan sekali diundur menjadi enam bulan sekali."Tetapi karena sesuatu hal, para dokter tersebut tidak mau mendukung secara terang-terangan penggunaan tanaman sebagai pengobatan alternatif," sambung Boni sambil tertawa.

Setelah beberapa lama tidak berhubungan, berdasarkan peningkatan keadaan isterinya, pada bulan April 1998, Patoppoi kemudian menghubungi Dr.Teo melalui fax untuk menginformasik an bahwa tanaman tersebut banyak terdapat di Jawa dan mengajak Dr. Teo untuk menyebarkan penggunaan tanaman ini di Indonesia. Kemudian Dr . Teo langsung membalas fax kami, tetapi mereka tidak tahu apa yang harus mereka perbuat, karena jarak yang jauh," sambung Patoppoi. Meskipun Patoppoi mengusulkan agar buku mereka diterjemahkan dalam bahasa Indonesiadan disebar-luaskan di Indonesia, Dr. Teo menganjurkan agar kedua belah pihak bekerja sama dan berkonsentrasi dalam usaha nyata membantu penderita kanker di Indonesia.

Kemudian, pada akhir Januari 2000 saat Jawa Pos mengulas habis mengenai meninggalnya Wing Wiryanto, salah satu wartawan handal Jawa Pos,Patoppoi sempat tercengang. Data-data rinci mengenai gejala, penderitaan, pengobatan yang diulas di Jawa Pos, ternyata sama dengan salah satu pengalaman pengobatan penderita kanker usus yang dijelaskan di buku tersebut. Dan eksperimen pengobatan tersebut berhasil menyembuhkan pasien tersebut. "Lalu saya langsung menulis di kolom Pembaca Menulis di Jawa Pos," ujar Boni. Dan tanggapan yang diterimanya benar-benar diluar dugaan. Dalam sehari, bisa sekitar 30 telepon yang masuk. "Sampai saat ini, sudah ada sekitar 300 orang yang datang ke sini," lanjut Boni yang beralamat di Jl. KH. Khamdani, Buduran Sidoarjo.

Pasien pertama yang berhasil adalah penderita Kanker Mulut Rahim stadium dini. Setelah diperiksa, dokter mengatakan harus dioperasi.. Tetapi karena belum memiliki biaya dan sambil menunggu rumahnya laku dijual untuk biaya operasi, mereka datang setelah membaca Jawa Pos.Setelah diberi tanaman dan cara meminumnya, tidak lama kemudian pasien tersebut datang lagi dan melaporkan bahwa dia tidak perlu dioperasi, karena hasil pemeriksaan mengatakan negatif.

Berdasarkan animo masyarakat sekitar yang sangat tinggi, Patoppoi berusaha untuk menemui Dr. Teo secara langsung. Atas bantuan Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan, Sampurno, Patoppoi dapat menemui Dr. Teo di Penang , Malaysia . Di kantor Pusat Cancer Care Penang, Malaysia , Patoppoi mendapat penerangan lebih lanjut mengenai riset tanaman yang saat ditemukan memiliki nama Indonesia . Ternyata saat Patoppoi mendapat buku "Cancer, Yet They Live" edisi revisi tahun 1999, fax yang dikirimnya di masukkan dalam buku tersebut, serta pengalaman isterinya dalam usahanya berperang melawan kanker. Dari pembicaraan mereka, Dr. Teo merekomendasi agar Patoppoi mendirikan perwakilan Cancer Care di Jakarta dan Surabaya . Maka secara resmi, Patoppoi dan putranya diangkat sebagai perwakilan lembaga sosial Cancer Care Indonesia , yang juga disebutkan dalam buletin bulanan Cancer Care, yaitu di Jl. Kayu Putih 4 No. 5, Jakarta , telp. 021-4894745, dan di Buduran, Sidoarjo.

Cancer Care Malaysiatelah mengembangkan bentuk pengobatan tersebut secara lebih canggih. Mereka telah memproduksi ekstrak Keladi Tikus dalam bentuk pil dan teh bubuk yang dikombinasikan dengan berbagai tananaman lainnya dengan dosis tertentu. "Dosis yang diperlukan tergantung penyakit yang diderita," kata Boni.
Untuk mendapatkan obat tersebut, penderita harus mengisi formulir yang menanyakan keadaan dan gejala penderita dan akan dikirimkan melalui fax ke Dr. Teo. "Formulir tersebut dapat diisi disini, dan akan kami fax-kan. Kemudian Dr. Teo sendiri yang akan mengirimkan resep sekaligus obatnya, dengan harga langsung dari Malaysia , sekitar 40-60 Ringgit Malaysia ," lanjut Boni. " Jadi pasien hanya membayar biaya fax dan obat, kami tidak menarik keuntungan, malahan untuk yang kurang mampu, Dr.Teo bisa memberikan perpanjangan waktu pembayaran. " tambahnya.

Sebenarnya pengobatan ini juga didukung dan sedang dicoba oleh salah satu dokter senior di Surabaya, pada pasiennya yang mengidap kanker ginjal. Adadua pasien yang sedang dirawat dokter yang pernah menjabat sebagai direktur salah satu rumah sakit terbesar di Surabayaini. Pasien pertama yang mengidap kanker rahim tidak sempat diberi pengobatan dengan keladi tikus, karena telah ditangani oleh rekan-rekan dokter yang telah memiliki reputasi. Setelah menjalani kemoterapi dan radiologi, pasien tersebut mengalami kerontokan rambut, kulit rusak dan gatal, dan selalu muntah. Tetapi pada pasien kedua yang mengidap kanker ginjal, dokter ini menanganinya sendiri dan juga memberikan pil keladi tikus untuk membantu proses penyembuhan kemoterapi.

Pada pasien kedua ini, tidak ditemui berbagai efek yang dialami penderita pertama, bahkan pasien tersebut kelihatan normal.. Tetapi dokter ini menolak untuk diekspos karena menurutnya, pengobatan ini belum resmi diteliti di Indonesia .. Menurutnya, jika rekan-rekannya mengetahui bahwa dia memakai pengobatan alternatif, mereka akan memberikan predikat sebagai "ter-kun" atau dokter-dukun. . "Disinilah gap yang terbuka antara pengobatan konvensional dan modern," kata dokter tersebut.

Banyak hal menarik yang dialami Boni selama menerima dan memberikan bantuan kepada berbagai pasien. Bahkan ada pecandu berat putaw dan sabu-sabu di Surabaya , yang pada akhirnya pecandu tersebut mendapat kanker paru-paru. Setelah mendapat vonis kanker paru-paru stadium III, pasien tersebut mengkonsumsi pil dan teh dari Cancer Care. Hasilnya cukup mengejutkan, karena ternyata obat tersebut dapat mengeluarkan racun narkoba dari peredaran darah penderita dan mengatasi ketergantungan pada narkoba tersebut. "Tapi, jika pecandu sudah bisa menetralisir racun dengan keladi tikus, dia tidak boleh memakai narkoba lagi, karena pasti akan timbul resistensi.

Jadi jangan seperti kebo, habis mandi berkubang lagi," sambung Boni sambil tertawa.
Juga ada pengalaman pasien yang meraung-raung kesakitan akibat serangan kanker yang menggerogotinya, karena obat penawar rasa sakit sudah tidak mempan lagi. Setelah diberi minum sari keladi tikus, beberapa saat kemudian pasien tersebut tenang dan tidak lagi merasa kesakitan.

Menurut data Cancer Care Malaysia, berbagai penyakit yang telah disembuhkan adalah berbagai kanker dan penyakit berat seperti kanker payudara, paru-paru, usus besar-rectum, liver, prostat, ginjal, leher rahim, tenggorokan, tulang, otak, limpa, leukemia, empedu, pankreas, dan hepatitis.

Jadi diharapkan agar hasil penelitian yang menghabiskan milyaran Ringgit Malaysia selama 5 tahun dapat benar-benar berguna bagi dunia kesehatan. Bagi teman-teman yang memerlukan informasi lebih lanjut sehubungan dengan artikel "Obat Kanker" bisa menghubungi perwakilan lembaga sosial "Cancer Care Indonesia " beralamat di Jl. Kayu Putih 4 no.5 Jakarta , telp : 021-4894745,

(Artikel di atas ditulis oleh :hettyagustina@yahoo.co.id)